Jika anda pernah mendengar istilah generasi 90-an yang saat ini tidak hentinya dibuatkan meme hingga kemudian membuat saya dan mungkin juga kamu menggerutu, “Berhentilah membagikan gambar-gambar itu, sudah tidak lagi lucu!” maka generasi yang muncul setelah itu diistilahkan generasi millenial. Walaupun bisa dikatakan bahwa sebagian besar generasi 90-an juga adalah bagian dari generasi millenial. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa generasi ini adalah mereka yang lahir antara tahun 1970 hingga 1995. Sebagian lagi menyebut dari tahun 1980-2000. Yoris Sebastian menyederhanakan istilah ini sebagai generasi langgas dalam bukunya. Di KBBI, kata langgas diartikan dengan tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang, dalam kata lain, bebas. Apapun itu, saya rasa aku, kamu, kita semua mengenal baik generasi ini. Saat ini mereka adalah generasi paling digital di bumi. Saya menyukai pernyataan Karlina Supelli, seorang astronom dan filsuf, yang mengatakan begini :

“Dalam dunia kontemporer saat ini kenikmatan terbesar adalah teknologi digital. Bersama teknologi digital sebuah budaya baru telah lahir. Inilah budaya dimana kita semua selalu terhubung (always online), budaya berkomentar (comment culture), dan kecenderungan untuk selalu berbagi (sharing). Gejala ini membawa kita ke situasi paradoks. Sementara kita menyadari bahwa masalah-masalah yang mendera semakin membutuhkan pemikiran yang mendalam.”

Sherry Turkle, peneliti media sosial, menuliskan bahwa kita menciptakan budaya berkomunikasi yang justru mengurangi waktu kita untuk berpikir tanpa tersela, di bawah godaan untuk segera melontar komentar, kita tidak lagi punya cukup waktu untuk memikirkan masalah-masalah yang rumit. Saya tidak pesimistik terhadap generasi ini sebab toh—saya selalu uring-uringan ketika mendapati pesan operator penyedia layanan seluler yang mengingatkan tentang sisa penggunaan paket data dan lagi—saya selalu penasaran jika foto saya di instagram atau path kekurangan love—seolah tidak ada yang cinta kepada saya.

Ada tiga pemaparan data yang menarik untuk ditilik. Pertama, data yang dirilis oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan bahwa 70% dari total jumlah penduduk Indonesia berada pada usia angkatan kerja atau usia produktif. Kedua, menurut lembaga riset pasar e-Marketer, di 2014 jumlah pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 83,7 juta orang sehingga mendudukkan Indonesia pada peringkat 6 terbesar di dunia. Angka yang terus bertambah ini membawa Indonesia pada perkiraan bahwa di 2017 mendatang akan naik satu peringkat mengalahkan Jepang, sebab peningkatan jumlah pengguna internet di sana lebih lambat dibanding di Indonesia. Terakhir adalah survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sepanjang 2016 mengungkapkan bahwa total jumlah penduduk Indonesia adalah 256,2 juta orang dan sebanyak 132,7 juta orang telah terhubung internet. Perkembangan infrastruktur jaringan yang cepat dan kemudahan memiliki smartphone membuat rata-rata pengakses internet di Indonesia hanya menggunakan perangkat genggam.

Atas uraian ini saya hendak menarik benang merah berujung tanya bahwa untuk angka usia produktif yang terhitung tinggi hingga hari ini, atas keberlimpahan serta kemudahan mengakses internet, bisakah memberi jeda postingan-postingan media sosial yang tidak penting itu  kepada sesuatu yang lebih berguna? Atau melakukan siasat-siasat kecil terhadap media sosial untuk sesuatu yang lebih bernilai? Banyak kisah menarik dari anak muda negeri ini yang memanfaatkan media sosial untuk khalayak, walaupun tak banyak dari mereka yang kemudian menyalahgunakannya hingga berujung kepada ancaman kebersatuan suatu negara. Tiap orang bisa menjadi menjadi pencuri untuk mencipta—toh tak lagi ada sesuatu yang asli di dunia ini. Saya gatal ingin mengutip Austin Kleon, penulis buku Steal Like an Artist, yang di sebuah panggung mengatakan :

“Tidak ada lagi sesuatu yang benar-benar asli. Segala hasil kerja-kerja kreatif dibuat berdasarkan pada apa yang telah ada sebelumnya. Semua ide baru adalah hasil olahan dari apa yang telah kita lihat sebelumnya.”

Curilah sesuatu dari orang atau apapun yang ada di kitaran kita, olah dan gabungkan dengan ide  yang kita punya, maka lahirlah sesuatu yang baru. Dan platform media sosial dan teknologi digital membuka ruang untuk itu semua, keterbukaan pikiran agar tak lagi melulu menghabiskan waktu dan kuota di media sosial adalah jalannya. Atau jika tak lagi sempat berpikir lama-lama, bagaimana jika kita membagikan tulisan-tulisan jalandamai.org atau damailahindonesiaku.com di akun media soial yang kita punya, sebab mungkin setelah itu, ada orang yang membacanya, kemudian membagikannya, begitu seterusnya hingga linimasa tidak lagi dipenuhi oleh postingan-postingan kebencian yang berujung pada penghasutan—siapa tahu tulisan ini bisa jadi trending topic mengalahkan tagar-tagar nyeleneh tak penting di media sosial itu.

Bukankah menenangkan melihat linimasa dipenuhi berita-berita damai? Dan lagi, pada 10-20 tahun mendatang para generasi millenial yang langgas ini akan menjadi pemimpin, jika mereka terus kerdil memanfaatkan media sosial, maka orang-orang yang sinis terhadap mereka akan tertawa selepas-lepasnya. Belum lagi orang-orang yang punya kepentingan pribadi dengan memanfaatkan orang-orang muda dan media sosial yang mereka punya. Tawaran ini bukan sok intelektualis—ini hanya hal kecil, apa salahnya menjaga dan merawat kedamaian melalui ibu jari yang punya kuasa besar pada layar gawai?